Sebelum saya berbagi cerita mission invasion dari Dieng seminggu yang lalu, saya ingin sedikit menyampah. Selama sehari full, Selasa, 24 Juli 2012 sejak pagi hingga detik ini 00.01 masuk hari Rabu, 25 Juli 2012, mata saya lelah didepan layar bersilau ini hanya menunggu kepastian dari sebuah koneksi. Ini merupakan efek 'penunutan' wifi dari teknologi canggih android milik kakak saya. Teknologinya sih emang canggih, tapi kenapa bisa koneksi bisa suck buruk semacam ini? Karena orangnya ini yang uncanggih kali yaaa, jelas-jelas jaraknya agak jauh, ah yang jelas ini chaos sekali.
Sampah telah dibuang, dan inilah waktunya saya membagi domba lokal Dieng. Kalau difoto nampak lucu-lucu dan menggemaskan, tapi aslinya mereka ini makan sampah lho sodara-sodaraa.. Mungkin nggak bisa membedakan antara rumput dan sampah kali ya karena sampah disini ada disemak-semak rerumputan. Tak memungkinkan jika domba-domba imut nggak sengaja makan sampah.
Bagaimana bisa saya mendapatkan sheep ini? Seminggu yang lalu kita (Adit, Aam, Lutfi, Clara, Uni, Uci, Elin, dan Olin) menjenguk kerabat-kerabat yang sedang riset di dataran tinggi Dieng. Kita bilang sih survey, but actually mereka yang riset dan kitalah menginvasi *maaf. Mendengar keluhan-keluhan mereka membuat saya ingin menculik mereka satu-satu. Harapan kita dateng sih supaya mereka ini berkurang bebannya, otherwise mereka sedih ingin pulang, wah malah jadi tamu iblis begitulah, di sisi lain rindu diantara kita terobati.
Kita jalan-jalan ala wisatawan dengan mobil+sopir dan nampak rapi, padahal biasanya sih ala backpacker kere haha. Karena mobil yang disewa itu tergolong travel, dengan sedih hati perjalanan kita terbatas. Yep! Tujuan utama adalah mengunjungi domba Dieng yang telah menarik hati saya melalui gambar hasil tangkapan sang Kakak beberapa waktu lalu. Melihat foto domba milik Kakak saya ini membuat hidup saya penuh penasaran. Kebetulan sekali, satu teman saya si Party alias Dian Buana riset mengenai relasi domba terhadap kemakmuran kentang (ini ngasal banget), yang jelas dia tau betul soal domba Dieng. Karena kita terlalu rindu, jadi kita nggak sempat cerita soal hasil riset, yang ada dia cerita soal Bu Lurah dengan tingkahnya yang semena-mena, sungguh terlalu.
Next, dia mengajakku ke tempat penggembalaan domba. Tepatnya berada di sebelah (nggak tau arah) Candi Arjuna. Disanalah terdapat lapangan yang full of sheep. Wiiih menyenangkan sekali, walaupun aslinya domba-domba ini ada yang bersih dan ada yang kumuh, tapi bentuknya nggak membosankan dan nggak semua sama. Saat saya kesana domba-domba yang besar di tali agar nggak pergi dari kawasan lapangan. Tetapi tidak dengan anak domba yang nampak putih bersih. Walaupun tak diikat, si anak tak akan pergi kemana karena ia kacang yang tidak lupa dengan kulitnya (apa sih). Here's
Gambar-gambar tersebut hanya sedikit dari beberapa yang ada di kamera saya. Masih ada beberapa jenis domba yang memiliki bentuk lucu. Untuk mendapatkan perhatian domba, saya menggunakan beberapa tekhnik panggilan, yang tak jarang gagal. Nampaknya saya bisa cepat beradaptasi dengan mereka. Lama-lama nanti saya dikira menerima orderan daging kurban nih, anyway lain waktu saya akan kembali lagi mengunjungi mereka, cute sheeps..



No comments:
Post a Comment